Kamis, 21 Juli 2011

Transportasi Massal, Solusi Macet Terbaik

JAKARTA, TRIBUNEKOMPAS.
By: ANTO.


-Penanganan dan penyele­saian masalah kemacetan di DKI Ja­karta seharusnya ditangani kom­prehensif dan berlaku untuk jang­ka panjang. Salah satu solu­sinya adalah menciptakan trans­portasi publik yang modern, ber­kapasitas besar dan terintegrasi seperti mass rapid transit (MRT).

Untuk tahapan pembangunan MRT, saat ini persiapannya telah selesai dan segera memasuki tahapan tender. Sesuai jadwal, pengerjaan fisik mega proyek ini akan dimulai tahun 2012.

Berdasarkan data Dinas Per­hu­bungan (Dishub) DKI Jakarta, hingga akhir 2010, jumlah ken­da­raan di Jakarta tumbuh men­ca­pai 7,34 juta unit. Dari jumlah itu, se­banyak 98 persen merupakan ken­daraan pribadi, dan hanya dua per­sen angkutan umum. Adapun per­­tum­buhan rata-rata kendaraan ber­­motor di Jakarta dalam lima tahun ter­akhir sebe­sar 9,5 persen pertahun.

Rasio jalan di Ja­karta hanya 6,2 persen. Angka ini sangat kecil dibanding kota-kota besar di negara lain seperti Paris yang mencapai 24 persen, Tokyo se­besar 22 persen dan Singapura sebesar 12 persen. Terlebih, ke­empat kota ini sudah memiliki angkutan massal yang baik sedangkan Jakarta tidak.

Akibatnya, pertumbuhan ruas jalan tidak lagi sebanding de­ngan pertambahan jumlah kendaraan. Panjang jalan di ibu­kota men­ca­pai 7.650 km dengan luas ja­lan 40,1 km persegi. Se­dangkan per­­tum­buhan panjang jalan hanya sekitar 0,01 persen per­tahun. Beban jalan di Jakarta pun sema­kin bertambah dengan ada­nya kendaraan komuter dari daerah sekitar Jakarta (Bode­tabek) se­kitar 650.000 unit per hari.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengaku, Pemerintah Pro­vinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini berupaya keras mengu­rangi kemacetan. Di antara yang dila­kukan pemprov adalah me­nekan titik rawan macet, dengan me­nertibkan parkir-parkir liar, ter­minal bayangan, pak ogah dan lain sebagainya. Namun fakta­nya, terminal bayangan masih banyak dan pak ogah berkeliaran.

Selain itu, lanjut Foke, sapaan Fauzi, pihaknya berupaya me­nam­bah rasio jalan dengan mem­bangun jalan susun dan me­man­faatkan jalur jalan yang ada. Ta­hun ini, Pemprov juga memba­ngun jalan layang non tol (JLNT) di koridor Anta­sari-Blok M dan koridor Kam­pung Melayu-Tanah Abang. Selain itu, menambah pe­ng­ope­rasian koridor bus Trans­jakarta dari 10 saat ini hingga mencapai tar­getnya, yakni 15 koridor serta terus menambah jumlah armada.

“Pemprov DKI Jakarta juga terus melakukan evaluasi diterap­kannya standar pelayanan bus Transjakarta. Ini demi menarik lebih banyak warga mengguna­kan moda transportasi umum itu dibanding kendaraan pribadi. Akhir tahun ini akan beroperasi Koridor XI jurusan Kampung Melayu-Pulo Gebang,” jelasnya.

Kebijakan terbaru adalah pe­nga­turan jam operasional truk di ruas jalan tol dalam kota. Kebi­jakan ini menda­pat sambutan positif dari seluruh masyarakat Jakarta yang menik­mati pertam­bahan kecepatan kendaraan pada ruas jalan tol dalam kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar