Kamis, 21 Juli 2011

Wakil Menlu Amrik Puji Media Massa Indonesia

JAKARTA, TRIBUNEKOMPAS.
By: TOMMY


-Media massa Indonesia dipuji pejabat tinggi Negeri paman Sam. Di mata Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Maria Otero, media massa di Indonesia memiliki lebih banyak ruang untuk mengekspresikan pendapat, dibandingkan dengan negara-negara lainnya di sekawasan Asia Tenggara.

Bagi Otero, media massa di Indonesia tergolong bebas. Ba­nyak hal yang dapat dibagikan media massa kepada masyarakat. “Ini membuat Indonesia dapat berperan penting di perkancahan media ASEAN,” puji Otero da­lam Konferensi Tahunan Per­tama IKAT-US di Jakarta, kemarin.

Wakil Menlu AS Hillary Clin­ton untuk urusan demokrasi dan urusan global ini menambahkan, tingginya jumlah pengguna jeja­ring sosial di Indonesia juga men­jadi bukti kebebasan berekspresi dan bersuara di negeri ini.

“Pengguna Facebook In­do­ne­sia terbanyak di dunia. Blog­ger-blogger di Indonesia juga ba­nyak. Menurut saya mereka be­nar-benar merdeka dalam me­nyuarakan pendapat, padangan dan nilai-nilai yang mereka ya­kini,” kata Otero.

Otero juga menekankan pen­tingnya kebebasan berekspresi dalam kehidupan demokrasi sua­tu negara. “Seandainya kebe­ba­san itu dikekang, maka bukan ti­dak mungkin kejadian seperti di Arab akan kembali terulang. Kemungkinan media menjadi alat menciptakan revolusi seperti di Mesir dan Tunisia,” jelasnya

Otero me­ngatakan, media di Indonesia berbeda dengan media di Mesir dan Tunisia. “Apa yang terjadi di kedua negara itu men­cer­minkan ku­rangnya kebebasan berpen­dapat di depan umum. Hal ini tidak terjadi di In­do­nesia,” imbuhnya.

Otero berada di Indonesia un­tuk mendampingi Menlu Clinton di Bali dalam pertemuan Komisi Ber­sama Kemitraan Kompre­hensif dan akan memimpin si­dang-sidang Kelompok Kerja De­mo­krasi dan Masyarakat Madani.

Otero juga menghadiri kon­ferensi IKAT-U.S. Annual Part­ner Conference yang pertama untuk meresmikan dukungan bagi em­pat program kemitraan: men­du­kung media yang inde­penden, meningkatkan repre­sentasi pe­rem­puan dalam politik, mening­katkan akses tuna daksa ke pe­milu dan memperkuat ins­titusi-ins­titusi hak asasi manusia regional.

Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel membahas repre­sentasi perempuan dalam politik. “Di Indonesia saat ini jumlah per­wakilan perempuan dalam perpo­litikan cukup signi­fikan. Namun jumlah ini belum mencapai 50 persen se­bagaimana di AS. De­mokrasi, apakah itu di AS mau­pun In­donesia, tidak selalu sem­purna. Namun kami terus ber­usa­ha untuk memperbaikinya, ter­uta­ma berkaitan dengan per­wa­kilan perempuan di par­le­men,” jelas Marciel.

Konferensi Tahunan Pertama IKAT-US sebagai tindak lanjut kerja sama komprehensif antar masyarakat sipil Indonesia-AS yang digagas Presiden SBY dan Presiden Obama. Otero juga akan berdikusi dengan para ma­hasiswa Universitas Al-Azhar tentang pemberdayaan anak mu­da dalam politik, hari ini.

Terkait masalah korupsi yang hingga saat ini masih belum tun­tas penanganannya, Marciel me­ngatakan, semua itu butuh waktu. Sejauh ini pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya se­mak­simal mungkin untuk me­nangani masalah korupsi.

“Indonesia menganggap ko­rupsi sebagai masalah utama bangsa ini dan penghambat untuk bisa maju. KPK sudah men­ja­lankan tugas yang luar biasa da­lam memberantas korupsi. Se­jauh ini sudah banyak kemajuan yang dilakukan oleh KPK ter­utama dengan keberhasilan me­nangkap beberapa peja­bat-pe­jabat yang korup,” katanya.

“Namun korupsi bukanlah se­suatu yang mudah untuk dihi­lang­kan dalam waktu setahun. Dalam memberantas korupsi, dibutuhkan banyak usaha dan konsistensi,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar