JAKARTA, TRIBUNEKOMPAS. By: TOMMY
-Media massa Indonesia dipuji pejabat tinggi Negeri paman Sam. Di mata Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Maria Otero, media massa di Indonesia memiliki lebih banyak ruang untuk mengekspresikan pendapat, dibandingkan dengan negara-negara lainnya di sekawasan Asia Tenggara.
Bagi Otero, media massa di Indonesia tergolong bebas. Banyak hal yang dapat dibagikan media massa kepada masyarakat. “Ini membuat Indonesia dapat berperan penting di perkancahan media ASEAN,” puji Otero dalam Konferensi Tahunan Pertama IKAT-US di Jakarta, kemarin.
Wakil Menlu AS Hillary Clinton untuk urusan demokrasi dan urusan global ini menambahkan, tingginya jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia juga menjadi bukti kebebasan berekspresi dan bersuara di negeri ini.
“Pengguna Facebook Indonesia terbanyak di dunia. Blogger-blogger di Indonesia juga banyak. Menurut saya mereka benar-benar merdeka dalam menyuarakan pendapat, padangan dan nilai-nilai yang mereka yakini,” kata Otero.
Otero juga menekankan pentingnya kebebasan berekspresi dalam kehidupan demokrasi suatu negara. “Seandainya kebebasan itu dikekang, maka bukan tidak mungkin kejadian seperti di Arab akan kembali terulang. Kemungkinan media menjadi alat menciptakan revolusi seperti di Mesir dan Tunisia,” jelasnya
Otero mengatakan, media di Indonesia berbeda dengan media di Mesir dan Tunisia. “Apa yang terjadi di kedua negara itu mencerminkan kurangnya kebebasan berpendapat di depan umum. Hal ini tidak terjadi di Indonesia,” imbuhnya.
Otero berada di Indonesia untuk mendampingi Menlu Clinton di Bali dalam pertemuan Komisi Bersama Kemitraan Komprehensif dan akan memimpin sidang-sidang Kelompok Kerja Demokrasi dan Masyarakat Madani.
Otero juga menghadiri konferensi IKAT-U.S. Annual Partner Conference yang pertama untuk meresmikan dukungan bagi empat program kemitraan: mendukung media yang independen, meningkatkan representasi perempuan dalam politik, meningkatkan akses tuna daksa ke pemilu dan memperkuat institusi-institusi hak asasi manusia regional.
Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel membahas representasi perempuan dalam politik. “Di Indonesia saat ini jumlah perwakilan perempuan dalam perpolitikan cukup signifikan. Namun jumlah ini belum mencapai 50 persen sebagaimana di AS. Demokrasi, apakah itu di AS maupun Indonesia, tidak selalu sempurna. Namun kami terus berusaha untuk memperbaikinya, terutama berkaitan dengan perwakilan perempuan di parlemen,” jelas Marciel.
Konferensi Tahunan Pertama IKAT-US sebagai tindak lanjut kerja sama komprehensif antar masyarakat sipil Indonesia-AS yang digagas Presiden SBY dan Presiden Obama. Otero juga akan berdikusi dengan para mahasiswa Universitas Al-Azhar tentang pemberdayaan anak muda dalam politik, hari ini.
Terkait masalah korupsi yang hingga saat ini masih belum tuntas penanganannya, Marciel mengatakan, semua itu butuh waktu. Sejauh ini pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya semaksimal mungkin untuk menangani masalah korupsi.
“Indonesia menganggap korupsi sebagai masalah utama bangsa ini dan penghambat untuk bisa maju. KPK sudah menjalankan tugas yang luar biasa dalam memberantas korupsi. Sejauh ini sudah banyak kemajuan yang dilakukan oleh KPK terutama dengan keberhasilan menangkap beberapa pejabat-pejabat yang korup,” katanya.
“Namun korupsi bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan dalam waktu setahun. Dalam memberantas korupsi, dibutuhkan banyak usaha dan konsistensi,” katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar