JAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS) By: Parman.
- Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengakui wibawa pemerintah di mata publik cenderung menurun. "Karena sering diberitakan perilaku buruk aparat, lama-lama kepercayaan itu terus tergerus," ujar Gamawan usai memberi sambutan dan seminar Peningkatan Peran Aparatur Pemerintah Dalam Penguatan Ketahanan Bangsa di Hotel Peninsula, Jakarta, 2 Maret 2012.
Namun dia tidak menyalahkan pemberitaan media yang sangat terbuka. "Ini justru menjadi catatan bagi aparat untuk berbenah," ujar Gamawan.
Gamawan meminta secara personal aparat sipil melakukan introspeksi dan melakukan perbaikan kinerja. Secara internal bekas Gubernur Sumatera Barat ini meminta pengawasan di setiap kelembagaan dan satuan tugas ditingkatkan. "Pimpinan jangan pernah berhenti mengingatkan, jangan pernah," ujar dia.
Lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) merilis turunnya wibawa pemerintah di hadapan publik. Hal ini menjadi penyebab utama munculnya beberapa tindakan anarkistis yang dilakukan masyarakat di ruang publik. "Gejala instabilitas terlihat dengan semakin meluasnya keresahan dan ketegangan sosial di masyarakat," ujar peneliti politik CSIS, Sunny Tanuwidjaja.
Menurut Sunny, turunnya kepercayaan publik pada wibawa pemerintah ini turut mengurangi tingkat partisipasi politik masyarakat. Selain itu juga menjadi sumber delegitimasi masyarakat terhadap pemerintah.
Turunnya wibawa pemerintah menurut CSIS menyebabkan masyarakat tidak takut melakukan tindakan melawan hukum. Dari 1.250 responden di 23 provinsi sebanyak 55,3 responden menyatakan permisif terhadap tindakan melawan aparat. Sedangkan 45,2 persen permisif terhadap tindakan prostitusi.
Sunny melanjutkan, ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah ini sudah pada titik mengkhawatirkan. Hal ini dipicu kemandekan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Masyarakat menilai pemerintah tidak berhasil menjalankan tugas dalam memenuhi hak-hak warga negara.
Ketidakpercayaan ini pun menumbuhkan budaya apatis. Masyarakat juga menjadi anarkistis sehingga meningkatkan budaya premanisme di tengah masyarakat. "Masyarakat menjadi permisif dengan tindakan kekerasan karena dianggap sebagai satu-satunya jalan."
Budaya anarkistis dan premanisme itu terlihat dalam berbagai aksi demonstrasi massa. Demonstran sudah berani melakukan tindakan melawan hukum dengan melempar dan membakar gedung. Aksi kekerasan dan main hakim sendiri pun meningkat seiring turunnya wibawa pemerintah. "Untuk menghentikannya pemerintah harus kembali menjalankan tugasnya sebagai pengayom masyarakat."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar