SURABAYA, (TRIBUNEKOMPAS) By: Soewardi.
- Sekitar 50 wali kota dan perwakilannya di wilayah Asia Pasifik yang tergabung dalam jaringan Citynet berkumpul di Surabaya, Jawa Timur, pada 9-12 Juli 2012. Mereka berkumpul dalam rountable meeting bertema "Redesigning Citynet for Liveable, Properous and Inclusive Asian Cities" guna membahas permasalahan moda transportasi di perkotaan.
Anggota
Citynet yang mengirimkan perwakilannya antara lain adalah Jakarta,
Seoul, Yokohama, Mumbai, Colombo, Kathmandu, dan lain-lain. Wali Kota
Surabaya, Tri Rismaharini, mengatakan pertemuan di Surabaya memiliki
arti penting karena akan menjadi pijakan bagi berubahnya arah kebijakan
Citynet dari yang semula konsen soal sampah menjadi masalah
transportasi.
"Kantor pusatnya juga akan pindah dari Yokohama ke Seoul karena kota tersebut menjadi contoh pengelolaan transportasi massal yang paling bagus. Tinggal kita mengembangkan sesuai kharakteristik daerah masing-masing," kata Risma seusai membuka pertemuan. Diakuinya, Surabaya masih perlu belajar pada kota-kota lain dalam mengelola transportasi yang ramah lingkungan.
Risma mengatakan sempat ditanya oleh perwakilan dari India mengapa tidak menerapkan moda transportasi bus rapid transit. Risma menjawab bahwa bus rapid transit kurang cocok diterapkan di Surabaya. Sebab, kata dia, jarak antara Surabaya dengan wilayah tetangganya relatif dekat sehingga yang dilayani bukan hanya penduduk Surabaya. Karena itu, bila sarana transportasi yang dipakai adalah bus, maka akan banyak penumpang yang tak terangkut.
Oleh sebab itu, Risma lebih condong menggunakan kereta trem daripada bus. "Kalau di India border kota tidak berpengaruh karena wilayahnya luas. Kalau di Surabaya yang dilayani bukan hanya warga Surabaya," kata Risma.
Kepala Bagian Kerja Sama Pemerintah Kota Surabaya, Ifron Hadi Susanto, mengatakan selain kegiatan di ruangan, para wali kota juga akan diajak ke lapangan mengunjungi sejumlah tempat yang menjadi best practice di bidang lingkungan. Di antaranya adalah kampung bersih dan hijau, eco school, kampus, serta melakukan aksi tanam pohon di kebun bibit Wonorejo. "Kegiatan di Surabaya ini sekaligus menandai usia Citynet ke-25 tahun," kata Ifron.
"Kantor pusatnya juga akan pindah dari Yokohama ke Seoul karena kota tersebut menjadi contoh pengelolaan transportasi massal yang paling bagus. Tinggal kita mengembangkan sesuai kharakteristik daerah masing-masing," kata Risma seusai membuka pertemuan. Diakuinya, Surabaya masih perlu belajar pada kota-kota lain dalam mengelola transportasi yang ramah lingkungan.
Risma mengatakan sempat ditanya oleh perwakilan dari India mengapa tidak menerapkan moda transportasi bus rapid transit. Risma menjawab bahwa bus rapid transit kurang cocok diterapkan di Surabaya. Sebab, kata dia, jarak antara Surabaya dengan wilayah tetangganya relatif dekat sehingga yang dilayani bukan hanya penduduk Surabaya. Karena itu, bila sarana transportasi yang dipakai adalah bus, maka akan banyak penumpang yang tak terangkut.
Oleh sebab itu, Risma lebih condong menggunakan kereta trem daripada bus. "Kalau di India border kota tidak berpengaruh karena wilayahnya luas. Kalau di Surabaya yang dilayani bukan hanya warga Surabaya," kata Risma.
Kepala Bagian Kerja Sama Pemerintah Kota Surabaya, Ifron Hadi Susanto, mengatakan selain kegiatan di ruangan, para wali kota juga akan diajak ke lapangan mengunjungi sejumlah tempat yang menjadi best practice di bidang lingkungan. Di antaranya adalah kampung bersih dan hijau, eco school, kampus, serta melakukan aksi tanam pohon di kebun bibit Wonorejo. "Kegiatan di Surabaya ini sekaligus menandai usia Citynet ke-25 tahun," kata Ifron.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar